Berdiri kokoh di Pulau Saparua, Maluku Tengah, Benteng Duurstede adalah monumen bersejarah yang melambangkan kebesaran masa lalu dan semangat juang yang tak pernah padam. Benteng ini bukan sekadar bangunan peninggalan kolonial Belanda, melainkan Saksi Bisu Perlawanan heroik rakyat Maluku yang dipimpin oleh pahlawan nasional, Kapitan Pattimura. Dibangun pada tahun 1676, Benteng Duurstede awalnya didirikan oleh Belanda untuk mengontrol perdagangan rempah-rempah yang melimpah di kepulauan ini, khususnya pala dan cengkeh. Namun, fungsinya berubah drastis menjadi simbol penindasan yang memicu kemarahan rakyat Maluku, yang puncaknya terjadi pada tahun 1817 ketika terjadi pertempuran sengit yang mengubah jalannya sejarah.

Puncak dari perlawanan terhadap kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pemerintahan kolonial adalah penyerbuan Benteng Duurstede pada 16 Mei 1817. Di bawah komando Thomas Matulessy, atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, benteng ini berhasil direbut dari tangan penjajah. Seluruh penghuni Belanda di dalam benteng, termasuk Residen Van den Berg, tewas dalam pertempuran tersebut. Kejadian ini menjadi Saksi Bisu Perlawanan rakyat Maluku yang menyala-nyala melawan kebijakan monopoli dan kesewenang-wenangan yang mencekik perekonomian dan kebebasan mereka. Keberanian Pattimura dan pasukannya dalam merebut benteng yang sangat strategis ini menjadi momen penting yang menginspirasi pergerakan anti-kolonial di wilayah lain di Nusantara.

Meskipun benteng berhasil direbut, Belanda segera mengirimkan pasukan bala bantuan besar-besaran untuk merebutnya kembali dan memadamkan pemberontakan. Pattimura akhirnya ditangkap dan dihukum mati pada 16 Desember 1817 di Benteng Nieuw Victoria di Ambon. Kendati demikian, Benteng Duurstede tetap menjadi Saksi Bisu Perlawanan yang kini berfungsi sebagai museum dan situs cagar budaya. Bangunan ini menyimpan meriam-meriam tua dan reruntuhan kamar-kamar yang menceritakan kembali kisah pahit dan heroik di masa lalu.

Upaya pelestarian benteng ini terus dilakukan untuk menjaga nilai historisnya. Pada hari Selasa, 12 November 2024, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Maluku merilis laporan konservasi terbaru yang berfokus pada penguatan dinding batu benteng yang tergerus usia dan iklim laut. Sementara itu, untuk menjaga ketertiban situs yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dan pelajar, Bhabinkamtibmas Desa Saparua, Brigadir M. Lestaluhu, rutin melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada wisatawan mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan menghormati situs bersejarah tersebut. Mengunjungi Benteng Duurstede bukan sekadar berwisata, melainkan napak tilas sejarah, tempat di mana kita dapat merenungkan semangat keberanian dan Saksi Bisu Perlawanan abadi Kapitan Pattimura yang mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan bangsanya.