Indonesia, khususnya Kepulauan Maluku, telah lama dikenal sebagai “Kepulauan Rempah-Rempah,” dan cengkeh adalah salah satu komoditas paling berharga yang pernah mengubah sejarah dunia. Di Desa Marikurubu, Tidore, Maluku Utara, terdapat sebuah situs sejarah hidup yang tak ternilai harganya: Pohon Cengkeh Tertua di dunia. Pohon legendaris ini, yang dikenal dengan nama lokal Cengkeh Afo (Afo berarti ‘kakek’ atau ‘tua’), adalah saksi bisu monopoli rempah-rempah yang memicu kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara sejak abad ke-16. Pohon Cengkeh Tertua ini telah ditetapkan sebagai cagar alam oleh pemerintah, menjadikannya ikon kebanggaan sekaligus pengingat sejarah yang penting.
Usia dan Identitas Cengkeh Afo
Pohon Cengkeh Tertua di Desa Marikurubu diperkirakan berusia lebih dari 380 tahun (sebagian ahli menduga usianya mencapai 400 tahun), menjadikannya spesimen cengkeh tertua yang masih hidup di planet ini. Ketinggian pohon ini dilaporkan mencapai lebih dari 30 meter dengan diameter batang yang besar dan kokoh.
Keberadaan pohon ini sangat luar biasa, mengingat sejarah cengkeh Maluku yang penuh gejolak. Selama era monopoli rempah-rempah oleh Belanda (VOC), banyak pohon cengkeh dan pala di Tidore dan Ternate ditebang paksa dalam program extirpatie untuk mengontrol pasokan global. Pohon Afo berhasil selamat dari pemusnahan massal tersebut, kemungkinan besar berkat perlindungan rahasia dari masyarakat adat Marikurubu.
- Sertifikasi Ilmiah: Usia pohon ini didasarkan pada metode penanggalan karbon dan catatan historis yang dikumpulkan oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 1990-an. Hasil penelitian tersebut kemudian dijadikan dasar penetapan pohon Afo sebagai situs cagar budaya nasional.
Nilai Historis dan Budaya
Cengkeh Afo memiliki nilai historis yang mendalam, tidak hanya bagi Tidore tetapi juga bagi sejarah rempah dunia. Pohon ini diyakini merupakan salah satu mother trees (pohon induk) dari mana bibit-bibit cengkeh superior disebarkan ke berbagai wilayah di Indonesia dan dunia.
- Monopoli Rempah: Pohon ini adalah simbol dari kekayaan yang dicari oleh bangsa-bangsa Eropa. Cengkeh yang dihasilkan oleh pohon-pohon di Tidore dan Ternate pada masa itu dihargai lebih mahal dari emas di pasar Eropa.
- Kearifan Lokal: Masyarakat adat Desa Marikurubu sangat menghormati Cengkeh Afo, menganggapnya sebagai warisan leluhur. Mereka memiliki ritual dan pantangan khusus yang dilakukan di sekitar pohon untuk menjaga kelestariannya.
Setiap tahun, pada Bulan Oktober (bulan puncak panen), masyarakat setempat mengadakan upacara syukur kecil sebagai bentuk penghormatan kepada pohon tersebut.
Konservasi dan Pengamanan
Saat ini, Cengkeh Afo dirawat secara intensif. Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Utara bertanggung jawab atas kesehatan dan keamanan pohon tersebut. Mereka menerapkan program perawatan rutin, termasuk pemupukan organik dan pencegahan hama.
Untuk menghindari kerusakan fisik akibat sentuhan atau kunjungan berlebihan, pagar pelindung telah dipasang di sekeliling pohon. Pengunjung yang ingin berfoto atau melihat Cengkeh Afo harus didampingi oleh Petugas Jaga Cagar Alam yang bertugas dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIT. Koordinasi keamanan juga dilakukan dengan Petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Tidore Utara untuk memastikan tidak ada tindakan perusakan atau pencurian bibit ilegal. Cengkeh Afo adalah harta karun genetik yang tak ternilai, warisan yang harus dijaga agar kisah rempah-rempah dapat terus diceritakan.