Di Pulau Seram, Maluku Tengah, tersembunyi sebuah permata sejarah dan keindahan alam, yaitu Desa Sawai. Desa ini dikenal luas sebagai Desa Tertua Maluku yang masih menjaga erat tradisi dan kearifan lokalnya. Terletak di tepi Teluk Sawai yang jernih, desa ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan eksotis; ia menyajikan pengalaman unik menginap di rumah-rumah panggung dan homestay terapung yang langsung menghadap ke laut. Suasana yang tenang, air yang sangat bening, serta hutan tropis yang lebat sebagai latar belakang, menjadikan Sawai destinasi yang sempurna bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan kedekatan dengan alam serta sejarah.

Status Sawai sebagai Desa Tertua Maluku didukung oleh cerita lisan turun-temurun dan penemuan arkeologis sederhana yang menunjukkan jejak permukiman telah ada sejak ratusan tahun lalu. Masyarakat Sawai, yang mayoritas adalah Suku Nuaulu dan Wemale, sangat menjaga keaslian desa mereka, baik dari segi arsitektur maupun adat istiadat. Rumah-rumah penduduk dan penginapan di sini dibangun di atas tiang kayu yang menjorok ke laut dangkal atau di tepian pantai, menciptakan pemandangan ikonik yang seolah menyatu dengan air. Arsitektur panggung ini adalah adaptasi cerdas terhadap lingkungan pesisir dan menjadi ciri khas yang membedakan Sawai dari desa wisata lain.

Daya tarik utama Desa Sawai adalah keunikan akomodasinya. Beberapa homestay menawarkan kamar yang benar-benar terapung di atas air, memungkinkan pengunjung untuk langsung melompat ke laut dan ber-snorkeling dari teras kamar. Air di Teluk Sawai dikenal sangat jernih, sehingga terumbu karang yang sehat dan ikan-ikan berwarna-warni mudah terlihat. Menurut data dari Dinas Pariwisata Maluku Tengah (per 15 Agustus 2024), desa ini telah menerima pelatihan intensif untuk pengelolaan homestay dan kebersihan lingkungan, memastikan standar keramahan dan kehigienisan yang tinggi.

Selain keindahan bahari, Desa Sawai dikelilingi oleh hutan lebat Taman Nasional Manusela, yang dapat dieksplorasi dengan panduan lokal. Terdapat gua-gua alami dan air terjun tersembunyi yang menambah variasi petualangan. Komunitas lokal juga sangat aktif dalam menjaga adat, dan pengunjung yang beruntung mungkin dapat menyaksikan upacara adat sederhana yang masih sering dilakukan oleh tetua desa. Pihak pengelola desa menerapkan aturan ketat mengenai sampah plastik dan kebersihan perairan, didukung oleh petugas keamanan desa yang berpatroli setiap sore untuk memastikan aturan ditaati.

Keberadaan Desa Tertua Maluku ini adalah bukti nyata bagaimana kearifan lokal dapat bersanding harmonis dengan perkembangan pariwisata. Dengan mempertahankan arsitektur tradisional dan sistem penginapan yang unik di atas air, Sawai tidak hanya menawarkan tempat istirahat yang eksotis, tetapi juga pengalaman budaya yang otentik dan menawan di jantung Kepulauan Rempah.