Paradoks ekonomi yang membingungkan terjadi di Maluku, yang dikenal sebagai lumbung ikan nasional. Fakta Maluku menunjukkan bahwa Harga Ikan di Ambon, sebagai pusat perikanan, justru Lebih Mahal Daripada di Jakarta yang merupakan kota konsumen.
Secara logika, ikan seharusnya dijual lebih murah di tempat asalnya. Namun, data menunjukkan sebaliknya. Fakta Maluku ini mengindikasikan adanya masalah struktural serius dalam rantai pasok dan tata niaga perikanan lokal.
Salah satu faktor utama mengapa Harga Ikan di Ambon Lebih Mahal Daripada di Jakarta adalah biaya logistik dan transportasi. Kurangnya fasilitas cold storage dan pengolahan yang memadai membuat distribusi lokal menjadi mahal dan tidak efisien.
Ikan tangkapan berkualitas tinggi seringkali langsung dikirim ke luar Maluku atau ke pasar ekspor karena harga yang ditawarkan lebih tinggi. Ini menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga di pasar lokal Ambon.
Fakta Maluku juga mengungkap peran dominan tengkulak dan rantai distribusi yang terlalu panjang. Setiap middleman menambahkan margin keuntungan yang secara kumulatif membuat Harga Ikan di Ambon melonjak bagi konsumen.
Masyarakat Ambon sebagai penghasil ikan terbesar justru terbebani oleh harga pangan laut yang tinggi. Ironi ini merusak potensi daerah untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan lokal.
Pemerintah Maluku perlu berinvestasi dalam peningkatan fasilitas pelabuhan perikanan modern dan cold storage. Ini akan memotong rantai pasok dan menstabilkan Harga Ikan untuk konsumsi lokal.
Fakta Maluku menegaskan bahwa kesejahteraan nelayan lokal harus ditingkatkan, namun tidak dengan mengorbankan daya beli masyarakat Ambon sendiri. Diperlukan intervensi pasar yang bijak dan berpihak.
Harga Ikan Lebih Mahal Daripada di Jakarta adalah anomali yang harus segera diatasi. Fakta Maluku menuntut adanya reformasi total dalam sistem distribusi perikanan dari hulu ke hilir.