Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, memiliki sebuah monumen yang berdiri tegak sebagai pengingat akan pentingnya persatuan di tengah keberagaman: Gong Perdamaian Dunia. Monumen ini didirikan sebagai simbol rekonsiliasi dan harapan baru setelah Maluku melewati masa-masa kelam konflik horizontal. Keberadaan Gong Perdamaian Dunia di jantung Kota Ambon kini menjadi landmark yang paling sering dikunjungi, mengirimkan pesan universal tentang toleransi dan persaudaraan. Bagi masyarakat Maluku, Gong Perdamaian Dunia adalah bukti nyata bahwa upaya damai dan kerukunan antar-agama dapat diwujudkan melalui komitmen bersama, mewakili semangat Pela Gandong (persaudaraan abadi) Maluku.
Sejarah dan Filosofi Gong
Gong Perdamaian Dunia ini secara resmi didirikan pada tahun 2009 oleh World Peace Committee (Komite Perdamaian Dunia). Gong tersebut bukan sekadar gong biasa; permukaannya dihiasi dengan bendera dari seluruh negara di dunia dan simbol-simbol lima agama utama di Indonesia—Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha—ditambah dengan Konghucu, menegaskan inklusivitasnya.
Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 25 November 2008, dan pembangunannya memakan waktu sekitar enam bulan. Ketua Tim Pembangunan Monumen, Bapak Jantje Wenno, dalam arsip berita daerah pada tahun 2010, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di kawasan Taman Pelita adalah strategis, berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Gong ini memiliki diameter sekitar 2,5 meter, menjadikannya pusat visual yang dominan.
Pilar Kerukunan Antar-Agama
Pesan utama yang dibawa oleh monumen ini adalah Hidup Orang Basudara (Hidup Orang Bersaudara), sebuah filosofi lokal yang kini menjadi semangat Maluku baru. Monumen ini sering digunakan sebagai lokasi utama untuk acara-acara keagamaan bersama dan peringatan hari penting nasional.
Sebagai contoh nyata upaya menjaga kerukunan, Kepolisian Daerah (Polda) Maluku dan Kodam XVI/Pattimura secara rutin mengadakan patroli gabungan di sekitar lokasi, terutama saat perayaan hari besar seperti Idulfitri dan Natal. Petugas Keamanan (Bhabinkamtibmas), Bripka. Simon Tahapary, S.H., dalam laporannya pada bulan April 2025, menyebutkan bahwa sinergi pengamanan ini telah dilaksanakan secara konsisten selama lebih dari sepuluh tahun, membuktikan komitmen aparat dalam menjaga stabilitas dan kerukunan di Ambon. Keberhasilan Ambon bertransformasi dari zona konflik menjadi kota perdamaian menunjukkan betapa pentingnya simbol seperti Gong Perdamaian Dunia dalam memperkuat memori kolektif akan persatuan.