Maluku, dengan julukan “Kepulauan Rempah,” tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga kekayaan cita rasa yang unik. Kuliner Khas Maluku adalah perpaduan sempurna antara rempah-rempah yang kuat dengan hasil laut segar, menciptakan sensasi rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Artikel ini akan mengajak Anda mengenal lebih dekat dua hidangan paling ikonik dari Maluku, yaitu Papeda dan Ikan Kuah Kuning, serta mengapa keduanya menjadi simbol dari kekayaan budaya dan alam di kepulauan ini.

Papeda adalah hidangan utama yang sangat identik dengan Maluku dan wilayah Indonesia Timur lainnya. Papeda adalah bubur sagu yang memiliki tekstur kenyal seperti lem. Meskipun Papeda tidak memiliki rasa yang kuat, keunikannya terletak pada cara memakannya. Papeda tidak dikunyah, melainkan dihirup. Hidangan ini menjadi sumber karbohidrat utama yang sangat mengenyangkan dan kaya serat. Kuliner Khas Maluku ini selalu disajikan bersama lauk pauk, salah satunya yang paling populer adalah Ikan Kuah Kuning.

Ikan Kuah Kuning adalah hidangan pelengkap yang sempurna untuk Papeda. Kuahnya yang segar dan kaya rasa dibuat dari bumbu rempah-rempah seperti kunyit, kemiri, bawang merah, dan cabai, yang memberikan warna kuning cerah dan rasa pedas gurih. Ikan yang digunakan biasanya adalah ikan laut segar, seperti ikan kakap atau ikan tuna, yang baru ditangkap. Potongan ikan direbus bersama kuah rempah hingga bumbu meresap sempurna. Kuliner Khas Maluku ini terasa sangat menyegarkan berkat tambahan air perasan lemon cui atau belimbing wuluh yang memberikan sentuhan asam.

Kombinasi Papeda dan Ikan Kuah Kuning bukan hanya sekadar makanan, melainkan sebuah ritual makan yang menyatukan orang. Papeda biasanya disajikan dalam porsi besar di tengah meja, di mana setiap orang mengambilnya dengan menggunakan sumpit bambu. Momen makan bersama ini mempererat tali kekeluargaan dan persahabatan.

Menurut sebuah catatan sejarah dari museum maritim lokal di Ambon pada tanggal 20 Oktober 2025, Papeda telah menjadi makanan pokok masyarakat Maluku sejak berabad-abad yang lalu, membuktikan betapa vitalnya hidangan ini dalam sejarah dan budaya mereka. Seorang nelayan bernama Pak Roni, yang tinggal di sebuah desa pesisir di Seram, menceritakan bahwa “Setelah seharian melaut, tidak ada yang lebih nikmat selain Papeda dan Ikan Kuah Kuning. Ini adalah makanan yang memberikan kami energi dan kehangatan.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Kuliner Khas Maluku ini adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.