Perjalanan ke Maluku tidak akan lengkap tanpa menjelajahi sensasi kuliner ikoniknya: Ikan Kuah Kuning dan Papeda. Kedua hidangan ini adalah perpaduan sempurna antara rasa yang kaya dan tekstur yang unik, mencerminkan kekayaan rempah-rempah yang telah menjadi ciri khas Kepulauan Maluku selama berabad-abad. Ikan Kuah Kuning dengan rasa asam, gurih, dan pedas yang seimbang, disandingkan dengan Papeda yang lembut dan kenyal, menciptakan pengalaman makan yang tak hanya memanjakan lidah tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang budaya lokal.

Ikan Kuah Kuning adalah hidangan yang dibuat dengan ikan segar, biasanya ikan cakalang atau tuna, yang dimasak dalam kuah kental berwarna kuning cerah. Warna kuningnya berasal dari kunyit, sementara rasa asamnya didapat dari belimbing wuluh atau asam jawa. Bumbu rempah lainnya seperti bawang merah, bawang putih, jahe, dan cabai dihaluskan untuk menciptakan kuah yang kaya dan hangat. Menjelajahi sensasi rasa ini adalah menemukan perpaduan harmonis antara pedas dan asam yang menyegarkan, sangat cocok dengan iklim tropis. Pada sebuah festival kuliner yang diadakan di Ambon pada 20 Juni 2025, Ikan Kuah Kuning menjadi menu favorit yang paling banyak dicari oleh pengunjung.

Pasangan terbaik untuk Ikan Kuah Kuning adalah Papeda. Papeda adalah makanan pokok yang terbuat dari sagu, memiliki tekstur seperti lem yang kental dan lengket. Meskipun terlihat sederhana, menjelajahi sensasi Papeda membutuhkan cara makan yang unik. Papeda biasanya diambil menggunakan dua sumpit atau garpu, lalu digulung dan diputar hingga membentuk bola yang lentur. Bola Papeda ini kemudian ditelan tanpa dikunyah, karena teksturnya yang lembut dan lendir. Ini adalah cara makan yang sangat otentik dan tradisional. Papeda tidak memiliki rasa yang kuat, sehingga berfungsi sebagai kanvas sempurna untuk menyeimbangkan rasa Ikan Kuah Kuning yang kuat.

Di luar konteks kuliner, Papeda juga memegang peran penting dalam budaya masyarakat Maluku. Sagu, bahan dasar Papeda, telah menjadi sumber pangan utama bagi masyarakat di Indonesia bagian timur selama ribuan tahun. Proses pengolahannya dari pohon sagu menjadi tepung adalah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menjelajahi sensasi ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang memahami kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Sebuah laporan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku pada April 2025 mencatat bahwa wisata kuliner berbasis sagu telah menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.

Secara keseluruhan, Ikan Kuah Kuning dan Papeda adalah lebih dari sekadar makanan. Keduanya adalah cerminan dari kekayaan alam dan budaya Maluku yang telah ada selama berabad-abad. Mengunjungi Maluku dan menjelajahi sensasi kuliner ini adalah cara terbaik untuk merasakan jiwa dari kepulauan rempah-rempah ini. Ini adalah pengalaman yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memperkaya jiwa.