Laut Banda, dengan kedalamannya yang legendaris dan kekayaan biodiversitasnya, telah lama menjadi lumbung ikan nasional. Namun, kekayaan ini ibarat pedang bermata dua; ia menarik minat nelayan lokal sekaligus mengundang predator ilegal dari berbagai penjuru. Sebuah laporan investigasi terbaru mencoba mengungkap tabir gelap yang selama ini menyelimuti praktik eksploitasi sumber daya laut di wilayah timur Indonesia tersebut. Praktik ini bukan lagi sekadar pencurian skala kecil, melainkan sebuah operasi sistematis yang mengancam kedaulatan pangan dan kelestarian ekosistem laut Maluku.
Tim investigasi dari Fakta Maluku melakukan penelusuran terhadap pergerakan kapal-kapal tanpa izin yang sering kali beroperasi di zona ekonomi eksklusif. Data lapangan menunjukkan bahwa pencurian ikan ini sering kali menggunakan teknologi yang lebih canggih daripada alat pantau yang dimiliki oleh pengawas lokal. Kapal-kapal besar ini menggunakan jaring yang merusak terumbu karang dan mengambil segala jenis ikan tanpa mempedulikan ukuran atau spesies, yang mengakibatkan stok ikan bagi nelayan tradisional menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak ekonomi dari aktivitas ilegal ini sangat memukul masyarakat pesisir di Maluku. Nelayan lokal yang hanya menggunakan perahu kecil kini harus melaut lebih jauh ke tengah samudra dengan risiko keselamatan yang tinggi karena ikan di pinggir pantai telah habis dikuras oleh kapal pencuri. Laporan Fakta Maluku juga menemukan adanya indikasi keterlibatan jaringan internasional yang memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan kecil tersembunyi untuk memindahkan hasil curian mereka ke kapal pengangkut yang lebih besar di tengah laut (transshipment). Praktik “kucing-kucingan” ini membuat kerugian negara mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.
Pembedahan masalah di Laut Banda juga menyoroti keterbatasan armada patroli laut kita. Luasnya wilayah yang harus dijaga tidak sebanding dengan jumlah personel dan kapal cepat yang tersedia. Investigasi ini menemukan bahwa sering kali peringatan mengenai keberadaan kapal asing diabaikan karena kendala bahan bakar atau koordinasi antarinstansi yang berbelit-belit. Padahal, perlindungan terhadap laut adalah perlindungan terhadap masa depan Maluku. Jika pencurian ini dibiarkan terus berlanjut, maka kepulauan rempah-rempah ini terancam kehilangan sumber pendapatan utamanya dari sektor perikanan yang berkelanjutan.