Kepulauan Maluku, selain terkenal dengan sejarah rempah-rempah dan keindahan baharinya, memiliki warisan budaya sosial yang kuat, salah satunya diwujudkan melalui ritual komunal Makan Patita. Secara harfiah, Makan Patita berarti “makan besar” atau pesta makan bersama yang dilakukan di ruang publik. Lebih dari sekadar acara kuliner, tradisi ini adalah simbol kebersamaan dan persatuan yang mengakar kuat dalam masyarakat Maluku, berfungsi sebagai perekat sosial di tengah keberagaman. Mengadakan Patita merupakan cara tradisional untuk merayakan keberhasilan, menyambut tamu kehormatan, atau memperkuat ikatan persaudaraan Pela Gandong antardesa.
Memahami Esensi Patita
Tradisi Makan Patita biasanya diselenggarakan dalam perayaan besar, seperti upacara adat Cuci Negeri, Hari Kemerdekaan, atau setelah selesainya proyek pembangunan desa. Keunikan Patita adalah penyajiannya: makanan disajikan dalam wadah panjang yang disebut joli atau di atas daun pisang panjang yang diletakkan memanjang di tanah. Seluruh warga, tanpa memandang usia, status sosial, atau latar belakang, duduk bersila mengelilingi hidangan ini untuk makan bersama.
Simbol kebersamaan dalam Patita sangat terlihat dari cara penyajian dan cara makannya. Semua orang mengambil makanan dari sumber yang sama, menekankan kesetaraan dan menghilangkan batas-batas sosial sementara waktu. Tokoh Adat Maluku, Bapak Elias Tuhuteru, dalam sasi (pertemuan adat) di Pulau Ambon pada Tanggal 4 April 2025, menjelaskan bahwa Patita adalah wujud praktik dari filosofi Pela Gandong, yang memprioritaskan persatuan di atas kepentingan individu.
Ragam Kuliner dan Persiapan Komunal
Hidangan dalam Makan Patita selalu kaya akan hasil laut dan rempah khas Maluku. Menu wajib yang selalu ada meliputi:
- Ikan Bakar: Berbagai jenis ikan segar dibakar dengan bumbu kuning atau rica-rica yang pedas.
- Kasbi (Singkong) dan Ubi: Sebagai pengganti nasi atau pendamping karbohidrat utama.
- Papeda: Makanan pokok Maluku yang terbuat dari sagu, disajikan bersama ikan kuah kuning.
- Kohu-Kohu: Sejenis urap khas Maluku yang menggunakan ikan tuna suwir dan kelapa parut.
Proses persiapan Patita sendiri merupakan bagian dari ritual kebersamaan. Seluruh warga bergotong royong. Kaum pria biasanya bertugas mencari ikan dan memasak hidangan berat, sementara kaum wanita bertanggung jawab membuat kue-kue dan mengolah sayuran. Seluruh logistik dan bahan-bahan makanan dikumpulkan secara swadaya oleh warga desa.
Data dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Maluku mencatat bahwa pelaksanaan Makan Patita dalam satu tahun rata-rata dilakukan lebih dari 20 kali di berbagai desa, baik dalam acara resmi maupun perayaan lokal. Tradisi ini telah terbukti sangat efektif dalam membangun dan mempertahankan harmoni sosial pasca-konflik. Pada akhirnya, Makan Patita adalah perayaan kekayaan rasa Maluku dan, yang paling penting, perayaan tentang kekuatan komunal.