Provinsi Maluku sejak lama telah dinobatkan sebagai wilayah strategis nasional dalam urusan kelautan. Kekayaan hayati bawah lautnya yang luar biasa menjadikannya tumpuan harapan bagi kedaulatan pangan nasional, khususnya di sektor protein hewani. Namun, ironi besar tengah menyelimuti kawasan ini pada tahun 2026. Predikat Maluku Lumbung Ikan seolah menjadi paradoks yang menyakitkan bagi warga lokal. Bagaimana mungkin sebuah daerah yang dikelilingi oleh lautan luas dengan potensi tangkapan yang melimpah justru harus menghadapi kenyataan pahit di meja makan mereka sendiri.

Pertanyaan mendasar yang kini menghantui pasar-pasar tradisional di Ambon hingga Tual adalah: Kenapa Harga Ikan kini melambung tinggi melampaui kemampuan daya beli masyarakat menengah ke bawah? Fenomena ini memicu kegelisahan massal, mengingat ikan adalah sumber protein utama bagi warga kepulauan. Pada tahun 2026, harga beberapa komoditas laut unggulan seperti cakalang dan tuna di pasar domestik Maluku tercatat mengalami kenaikan yang tidak wajar. Hal ini sangat kontras dengan laporan produksi perikanan yang diklaim pemerintah daerah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Salah satu penyebab utama dari masalah ini adalah tingginya biaya logistik dan distribusi di wilayah kepulauan. Meskipun stok Ikan Lokal sangat melimpah di titik penangkapan, keterbatasan fasilitas pendingin (cold storage) dan minimnya akses transportasi laut yang murah menuju pusat-pusat konsumsi membuat biaya operasional nelayan membengkak. Selain itu, adanya sistem tengkulak dan rantai distribusi yang terlalu panjang membuat margin harga di tingkat konsumen menjadi sangat tinggi. Nelayan seringkali terpaksa menjual hasil tangkapannya dengan harga murah karena terdesak kebutuhan, namun di tangan pengecer, harganya sudah berubah menjadi berkali-kali lipat.

Faktor lain yang tidak kalah krusial adalah kebijakan ekspor yang terlalu agresif. Di tahun 2026, permintaan pasar luar negeri terhadap ikan berkualitas tinggi dari perairan Maluku sangatlah besar. Banyak perusahaan pengolahan ikan lebih memprioritaskan pengiriman ke pasar internasional demi mendapatkan keuntungan dalam bentuk valuta asing. Dampaknya, pasokan ikan berkualitas untuk pasar lokal menjadi menipis. Hal inilah yang memicu kenaikan harga karena hukum permintaan dan penawaran yang tidak seimbang di tingkat daerah. Warga lokal seolah dipaksa bersaing dengan daya beli pasar global hanya untuk menikmati hasil bumi dari halaman rumah mereka sendiri.