Maluku, sebagai provinsi kepulauan, memiliki kekayaan bahari yang terjalin erat dengan adat istiadatnya. Salah satu manifestasi budaya maritim paling meriah dan memacu adrenalin adalah Tradisi Lomba Perahu Belang. Tradisi Lomba Perahu Belang adalah perlombaan perahu panjang yang melibatkan puluhan pendayung, yang tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga kekompakan dan strategi tim. Perahu Belang sendiri merupakan kapal perang tradisional yang kini dialihfungsikan menjadi wahana lomba yang sangat kompetitif. Keberadaan Tradisi Lomba Perahu ini menjadi ajang penting untuk mempererat persaudaraan antar negeri (desa adat) di Maluku Tengah dan sekitarnya. Gubernur Maluku, Bapak Said Assagaff (bukan nama sebenarnya), dalam sambutan pembukaan Pesta Teluk Ambon pada 17 September 2026, menekankan bahwa acara ini adalah warisan leluhur yang harus terus dilestarikan sebagai identitas budaya Maluku.

1. Filosofi dan Sejarah Perahu Belang

Perahu Belang memiliki akar sejarah yang kuat sebagai alat pertahanan dan penghubung antar pulau di masa lalu.

  • Fungsi Masa Lalu: Perahu Belang dulunya adalah armada perang yang digunakan oleh Kapitan (pemimpin perang) dari setiap negeri untuk berlayar antar pulau, berdagang, atau mempertahankan wilayah dari serangan musuh. Bentuknya yang ramping dan panjang dirancang untuk kecepatan tinggi.
  • Simbol Kekuatan Komunal: Saat ini, setiap perahu yang ikut lomba mewakili kehormatan dan kebanggaan negeri asalnya. Perlombaan ini menjadi ajang pembuktian kekuatan komunal, di mana kemenangan akan membawa kehormatan besar bagi desa tersebut selama setahun penuh.

2. Karakteristik Perahu dan Kru

Perahu Belang memiliki spesifikasi unik yang membuatnya berbeda dari perahu dayung lain di Indonesia.

  • Desain Perahu: Perahu Belang umumnya memiliki panjang antara 15 hingga 25 meter. Ciri khasnya adalah adanya cadik (penyeimbang) di sisi kiri dan kanan. Pada bagian depan perahu terdapat hiasan ukiran yang disebut kakapelan yang berfungsi sebagai lambang negeri dan penolak bala.
  • Jumlah Pendayung: Perahu diisi oleh kru yang sangat banyak, bisa mencapai 30 hingga 50 orang. Mereka dibagi menjadi pendayung utama, pengatur irama (tukang gaba-gaba), dan juru mudi (juru kemudi). Peran tukang gaba-gaba sangat krusial, ia berdiri di haluan sambil memberikan komando ritme dayungan dengan teriakan atau pukulan kayu.

3. Pelaksanaan Lomba dan Kriteria Kemenangan

Lomba perahu Belang selalu menarik perhatian ribuan penonton, dipadati oleh masyarakat dan wisatawan di pinggiran teluk.

  • Jalur dan Jarak: Perlombaan utama biasanya diadakan di Teluk Ambon, dengan jarak tempuh rata-rata sekitar 5 hingga 7 kilometer dari garis start ke garis finish. Perlombaan sering diadakan pada hari libur nasional atau perayaan adat, seperti Hari Pattimura yang jatuh pada 15 Mei.
  • Adrenalin Tinggi: Kunci kemenangan bukan hanya kekuatan, tetapi juga sinkronisasi. Setiap pendayung harus mendayung dengan irama yang persis sama, membuat perahu meluncur cepat tanpa oleng. Kesalahan irama sedikit saja dapat membuat perahu kehilangan momentum atau bahkan terbalik. Wasit lomba, yang berasal dari perwakilan tokoh adat dan TNI Angkatan Laut (Lantamal IX Ambon), memastikan aturan lomba dipatuhi dengan ketat.