Pulau Hatta, yang dahulunya dikenal sebagai Pulau Rozengain, adalah bagian integral dari Kepulauan Banda di Maluku. Kawasan ini dikenal karena sejarahnya yang monumental, alam bawah lautnya yang menakjubkan, dan tentunya, Pesona Kepulauan Rempah yang pernah menjadi incaran utama bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16 hingga ke-18. Pesona Kepulauan Rempah Maluku, khususnya pala dan cengkeh dari Banda, mendorong kolonialisme dan memicu perdagangan global yang mengubah sejarah dunia. Pulau Hatta, bersama Banda Neira dan pulau-pulau di sekitarnya, tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga menyimpan kisah dramatis pengasingan tokoh-tokoh penting pergerakan nasional. Pesona Kepulauan Rempah yang mendalam inilah yang menjadikan Banda Neira salah satu situs sejarah dan wisata paling kaya di Indonesia.

1. Titik Nol Perdagangan Pala Dunia

Kepulauan Banda adalah satu-satunya tempat di dunia pada masa itu yang menghasilkan rempah-rempah pala, komoditas yang nilainya setara dengan emas di Eropa.

  • Perebutan Kolonial: Penguasaan Kepulauan Banda, termasuk pulau-pulau kecil seperti Pulau Hatta, memicu konflik berdarah antara penduduk lokal dan kekuatan asing, terutama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari Belanda. VOC melakukan monopoli ketat dan pembantaian massal pada tahun 1621 untuk mengamankan jalur perdagangan pala.
  • Perkebunan Pala: Meskipun kekuasaan kolonial telah berakhir, jejak perkebunan pala peninggalan Belanda masih dapat ditemukan di pulau-pulau tersebut. Pohon-pohon pala yang menjulang tinggi menjadi saksi bisu era rempah yang menentukan nasib dunia.

2. Sejarah Pengasingan Tokoh Nasional

Banda Neira, sebagai pusat administratif Kepulauan Banda, menjadi tempat pengasingan yang disiapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

  • Pengasingan Hatta dan Sjahrir: Mohammad Hatta (Wakil Presiden pertama RI) dan Sutan Sjahrir (Perdana Menteri pertama RI) diasingkan di Banda Neira pada tahun 1936 hingga tahun 1942. Mereka tinggal di rumah pengasingan yang kini menjadi museum, menghabiskan waktu bertahun-tahun merumuskan gagasan-gagasan kebangsaan di bawah pengawasan ketat aparat kolonial dan petugas keamanan yang ditempatkan di Benteng Nassau.
  • Nama Baru: Setelah Indonesia merdeka, Pulau Rozengain diubah namanya menjadi Pulau Hatta sebagai penghormatan atas perjuangan Mohammad Hatta yang pernah diasingkan di sana dan jasanya bagi bangsa.

3. Keajaiban Bawah Laut Pulau Hatta

Selain sejarahnya, perairan di sekitar Pulau Hatta terkenal dengan keanekaragaman hayati lautnya.

  • Spot Diving Terbaik: Air yang jernih dan terumbu karang yang sehat menjadikan Pulau Hatta salah satu lokasi diving dan snorkeling terbaik di Maluku, menarik para penyelam internasional setiap tahunnya, terutama pada musim kemarau (sekitar bulan September).

Pulau Hatta dan Banda Neira adalah paket lengkap: sejarah yang mengajarkan, dan alam yang memanggil, semuanya berpusat pada kisah epik rempah-rempah.