Maluku sejak dulu dikenal sebagai negeri rempah, namun ada satu kekayaan alam lain yang sebenarnya menjadi tulang punggung kehidupan masyarakatnya: pohon sagu. Sagu adalah bagian tak terpisahkan dari identitas dan budaya makan di wilayah kepulauan ini. Namun, belakangan ini terjadi pergeseran konsumsi yang cukup mengkhawatirkan. Perdebatan antara Sagu vs Beras bukan sekadar soal selera makan, melainkan soal kedaulatan dan masa depan ketahanan pangan lokal yang kian terhimpit oleh hegemoni komoditas pangan nasional yang bersifat tunggal.
Secara historis, masyarakat Maluku memiliki ketahanan pangan yang sangat tangguh karena bergantung pada apa yang tersedia melimpah di alam mereka. Pohon sagu dapat tumbuh dengan subur di rawa-rawa tanpa memerlukan perawatan kimiawi yang rumit seperti tanaman padi. Satu batang pohon sagu dewasa mampu menghasilkan ratusan kilogram pati yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Namun, sebuah Fakta yang menyedihkan menunjukkan bahwa kebijakan pangan yang terlalu berorientasi pada “berasisasi” sejak era Orde Baru telah perlahan-lahan menggeser posisi sagu sebagai makanan pokok utama. Generasi muda di perkotaan kini lebih bangga makan nasi daripada papeda, yang dianggap sebagai makanan kelas dua.
Ketergantungan pada Beras sebenarnya menciptakan kerentanan ekonomi bagi wilayah Maluku. Sebagai daerah kepulauan, Maluku harus mendatangkan beras dari luar pulau seperti Sulawesi atau Jawa. Ketika terjadi cuaca buruk yang menghentikan pelayaran kapal logistik, harga beras akan melonjak drastis dan memicu inflasi di pasar-pasar lokal. Padahal, di saat yang sama, hutan-hutan sagu di sekeliling mereka dibiarkan terbengkalai atau bahkan dialihfungsikan menjadi lahan pembangunan. Hal ini menunjukkan betapa Ketahanan Pangan lokal yang seharusnya menjadi kekuatan justru mulai diabaikan demi mengikuti pola konsumsi yang tidak sesuai dengan karakteristik ekosistem setempat.
Selain aspek ekonomi, sebenarnya memiliki keunggulan nutrisi yang seringkali tidak disadari. Sagu adalah sumber karbohidrat kompleks yang bebas gluten dan memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan nasi putih. Dalam konteks kesehatan modern, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan fungsional yang sehat. Namun, minimnya inovasi pengolahan membuat tetap dipandang sebagai makanan tradisional yang kuno. Diperlukan sentuhan teknologi pangan agar sagu bisa hadir dalam bentuk yang lebih praktis, seperti mi atau tepung sagu berkualitas tinggi yang bisa digunakan sebagai bahan baku industri makanan modern.