Pulau Seram di Maluku dikenal sebagai “Nusa Ina” atau Pulau Ibu, sebuah julukan yang mencerminkan kekayaan hayati yang luar biasa. Di jantung pulau ini terletak Taman Nasional Manusela, sebuah kawasan lindung yang vital untuk ekosistem Wallacea. Taman Nasional Manusela berperan krusial dalam Konservasi Burung Endemik dan berbagai jenis flora dan fauna unik lainnya. Konservasi Burung Endemik ini sangat penting karena banyak spesies hanya dapat ditemukan di area spesifik ini, menjadikannya ‘laboratorium alam’ yang tak ternilai. Upaya Konservasi Burung Endemik di sini didukung penuh oleh pemerintah pusat dan organisasi lingkungan internasional.
Taman Nasional Manusela memiliki luas mencapai sekitar 189.000 hektar, mencakup berbagai tipe ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah hingga hutan pegunungan yang diselimuti kabut. Perbedaan ketinggian yang ekstrem, dari permukaan laut hingga mencapai puncak Gunung Binaiya (sekitar 3.027 meter di atas permukaan laut), menciptakan keragaman habitat yang mendukung tingkat endemisme tinggi. Ketinggian ini juga menjadi alasan mengapa kawasan ini kaya akan jenis burung yang unik.
Kawasan ini merupakan rumah bagi sedikitnya 117 jenis burung, di mana 14 jenis di antaranya adalah endemik, yang berarti mereka tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Di antara spesies yang paling terkenal adalah Nuri Ambon (Lorius domicella), Kakatua Seram (Cacatua moluccensis), dan Burung Paruh-tebal Maluku (Eos squamata). Kakatua Seram, yang berstatus rentan (vulnerable), menjadi fokus utama dalam program Konservasi Burung Endemik yang dijalankan oleh Balai Taman Nasional Manusela sejak tahun 2022. Program ini melibatkan patroli rutin, edukasi masyarakat lokal, dan pemantauan populasi secara berkala.
Selain burung, Taman Nasional Manusela juga melestarikan hutan pegunungan yang merupakan sumber air utama bagi masyarakat Seram. Hutan ini melindungi flora langka, termasuk beberapa jenis anggrek endemik. Masyarakat lokal, khususnya Suku Nuaulu dan Manusela, memiliki peran aktif dalam Perayaan Budaya yang terkait dengan alam, membantu menjaga keseimbangan ekosistem melalui kearifan lokal (Sasi). Dengan perlindungan yang ketat dan Potensi Destinasi ekowisata yang berbasis penelitian, Taman Nasional Manusela akan terus menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kekayaan hayati Maluku.